monster bbm

•Mei 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

ini ni jawaban om SBY…sok ga ciiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhh

Di sebuah pagi 25 Mei 2008.

Jam 09.00 wib, perutku laper banget. Karena tak tahan lagi, aku mampir di warung Padang di bilangan Duren Tiga Jakarta Selatan, sebelum aku ke Rempoa ke rumahnya Una untuk ikut rapat persiapan pernikahan kami. Mungkin aku orang pertama yang menghampiri warung itu. Menunya pun hanya beberapa saja yang sudah siap. Ikan Kembung bakar plus cabe hijau kesukaanku di warung itu pun belum selesai dimasak.

Karena tak tahan, akhirnya aku memesan apa saja yang ada disitu. Kupilih Ikan Mujahir goreng dan Peyek Udang. Baru beberapa jumput kumelahap makanan, secara tidak sengaja lagunya Bos Iwan Fals, Galang Rambu Anarki, menggema di warung itu. Lagu yang sedari kecil aku sering dengarkan. Lagu yang bercerita tentang kelahiran anak Iwan Fals yang kebetulan pas melambungnya harga BBM. Bahkan susupun tak terbeli.

Lagu ini aku dengar setelah 2 hari sebelumnya, (Jumat 23 Mei 2008), pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM 30 persen. Premium yang semua Rp 4.500 per/liter menjadi Rp 6 ribu. Waduh makin berat saja beban hidup ini. Atas dasar itu, sebagian teman bahkan ada yang langsung mengganti mobilnya dengan motor. Yang motornya Yamaha King, 2 tax langsung ganti Supra Fit. Semua orang beramai-ramai mengubah pola hidupnya.

Aku yang biasa mengisi bensin full tangki 15 ribu, sekarang sudah naik menjadi 20 ribu. Jadi akupun harus mengurangi aktifitas. Yang biasa bisa jalan minimal 25 kilo per hari, saat ini harus maksimal 20 kilo. Memang pilihannya hanya itu ternyata. Bagaimana bisa survival ditengah kesulitan semua orang.

Aku mungkin masih mending. Karena masih bisa makan di warung padang sekali makan 15 ribu. Tapi banyak teman yang ternyata lebih susah banget. Harus mulai rela setiap kali makan di Warteg dengan pilihan menu telor goreng sama sayur asem, plus air putih. Banyak teman yang akhirnya memilih minum tanpa warna.

 

Sejumlah teman kantor cerita kalau tetangganya sudah mulai pontang-panting kebingungan dengan konsumsi susu buat dua anaknya. Benar saja, susu juga melambung tinggi. Susu Dancow yang katanya sebelumnya masih 55 ribu per kotak. Kini sudah menjadi 80-90 ribu. Kalau melihat cerita teman-teman kantor, rasanya pingin ngamuk melihat negara ini. Semakin banyak jumlah penduduk miskin di negara ini. Koran Tempo 29 Mei hari ini misalnya, menurunkan laporannya penduduk miskin pada tahun ini menjadi 4,5 juta jiwa akibat kenaikan harga BBM. Total orang miskin akan bertambah menjadi 41,7 juta jiwa atau 21, 92 dari total penduduk Indonesia. Ini melebihi perkiraan pemerintah 14,8 sampai 15 persen.

Dan gilanya lagi, orang masih pusing dengan urusan BBM, pemerintah juga menaikkan tarif tol sekitar 12, 43 persen per Jumat Dini hari, 23 Mei. Surat telah ditandatangani menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Orang gila semua itu. Negara ini sepertinya memang pinginnya menghancurkan rakyatnya. Negara yang tak tahan segera melihat rakyatnya menggelepar kesakitan. Coba kalau niatnya “sedikit” baik, mbok ya ditahan misalnya, jangan dulu. Nunggu stabil akibat kenaikan BBM ini. Jasa Marga itu kan monopoli. Kalau ditahan sebentar juga apa ruginya? gak kan?…..Emang hoby kali membuat rakyatnya menderita.

Kenaikan harga BBM kali ini akan terus tercatat dalam sejarah ingatan hidupku. BBM naik saat aku akan melangsungkan pernikahan. Semakin membuatku tidak percaya sama negara ini. Benci sekali aku sama negara ini. Tidak bisa lagi aku bertakzim sama pemimpin di negeri ini. Semuanya hanya mengurus perut sendiri. Para pemimpin yang merasa sudah selesai melakukan banyak buat banyak orang. Solusinya turun jalan!!! lawan kenaikan harga BBM. Lawan kenaikan BBM. BBM adalah MONSTER…!!!!!!

Bersatulah rakyatku, melawan pemimpin yang zhalim…Sekali hidup berarti habis itu mati!!!! 

 

 

 

ode kebangkitan

•Mei 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

19 Mei 2008. Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan.

Siang sekitar pukul 14.00 wib. Aku dibantu Pardi di kamar kosanku yang sumpek, nempelin nama-nama undangan pernikahanku. Acara nempel-nempel itu ternyata lama juga, meski undanganku sedikit. Hampir 2 jam kaleeee. Setelah selesai nempel-nempel, Pardi, si Wong Boyolali itu, bahkan sempat tertidur karena kecapekan nggunting-ngguntingin nama-nama yang akan ditempel di undangan.

Selesai pekerjaan itu, lalu aku membersihkan kamar yang kotor banget, bekas guntingan. uppppssss….setelah selesai pekerjaan itu, lalu aku kepikir nraktir makan Pardi. Lalu terpilihlah, Grand Indonesia, untuk mencari tempat makan. Dari Karet Pedurenan, aku dan Pardi langsung menuju Grand Indonesia yang jaraknya sekitar 3 kilo meter.

Jangan salah, Jauh-jauh dari Kuningan ke lokasi Grand Indonesia, aku bukan bermaksud makan di mallnya. Mall termegah itu. Rasa-rasanya kok aku gak pantes makan di tempat itu. Meskipun aku sesungguhnya bisa makan di tempat itu. Tapi kok kata orang Jawa itu, ora pareng alias gak boleh. Setelah tengak-tengok sebentar, aku memilih makan di sebuah gang depan Grand Indonesia. Duh, ternyata banyak banget warung disitu. Benar saja, karena warung-warung itu menjadi tempat makan para pekerja Grand Indonesia. Kasihan sih, tempatnya agak sedikit kumuh. Tapi ya sudahlah memang itu nasib orang yang dengan ekonomi pas-pasan. Makan dimana lagi kalau gak ditempat itu, meskipun dengan resiko sakit perut atau kurang gizi hehehehe…dari pada pilihannya makan di Grand Indonesia, tapi setelah itu harus puasa Senin-Kamis. kacian deee..

Secara kebetulan aku makan nasi Lodeh dengan lauk peyek Udan, dan ternyata memang gak enak banget. Pardi yang makan ayam bakar saja, juga ternyata merasakan hal yang sama: gak enak. Terlihat gak sampai habis mengunyahnya. Maklum saja, makannya udah dari pagi kali…

Setelah makan, aku memang akhirnya masuk ke Seibu, Grand Indonesia. Mall megah punya Djarum itu. Aku masuk tapi cuma jalan-jalan saja. Kacian deeee. Hanya menikmati pemandangan lampu warna-warni nan indah. Lampion merah di lantai 3 yang terlihat dari lantai 8, tempat Megablitz, terasa indah dan menyedot mata memandang. Tak lama di Grand Indonesia aku pusing donk, mau kemana. Karena mau nonton film, udah tanggal tua, mau makan yang bersih harus irit-irit.

Ya sudah, setelah aku pikir-pikir akhirnya aku ke warung apresiasi, Bulungan, Blok M. Secara kebetulan di tempat itu telah digelar acara 100 penyair berkumpul.

Tema acara Ode Kebangkitan: Bangkitlah Raga Negeriku, Bangkitlah Jiwa Bangsaku. Seratus penyair, pembuat puisi berkumpul. dan tentu saja pengamen jalanan berkumpul. Menyambut apa yang mereka sebut sebagai detik-detik Kebangkitan Nasional yang ke 100.

Tiba-tiba aku berada ditengah-tengah lautan penyair, seniman, di tengah entitas seniman yang lega, longgar tanpa ada sekat-sekat budaya. Benar saja, warung apresiasi yang biasa menjadi tempatku mengunyah makanan sambil menonton live music, tiba-tiba membuatku minder. Perasaaanku dibombardir dengan nilai-nilai nasionalisme yang coba dibangun lewat puisi-puisi.

Suasana malam itu begitu cair. Para seniman dari berbagai daerah di Indonesia tumplek blek. Dan seperti biasa, para seniman yang berpakaian ala kadarnya, kaos oblonk, dan berbagai asesoris kesenimanan lainnya, mewarnai pemandangan malam itu. Tak peduli, ada pak Menteri didepan mereka. Muhammad Nuh, menteri komunikasi dan informasi, hadir dalam acara itu.

Hadir dalam acara itu, para seniman kawakan, seperti Sutardji Calzoum, Viddy AD Daery, Ibnu Wahyudi, Mutia Citrawati Lestari, Ahmadun Yosi Herfanda, Remmy Novaris DM, Hudan Hidayat, Asrizal Nur, Amien Kamil, Sihar Ramses Simatupang, Toto ST Radik, Juftazani, Mustafa Ismail, Arie MP Tamba, Wowok Hesti Prabowo, Firman Venayaksa, Herdi Sahrasad, dan Ibnu PS Megananda. Dan Sutardji membacakan puisinya berjudul air mata.

Selain pembacaan puisi, acara yang terbuka untuk umum ini juga menampilkan orasi kebudayaan oleh Menkominfo Mohammad Nuh dan sastrawan Chavchay Syaifullah. Selain itu, acara juga diisi pentas musik dari KPJ Rangkasbitung, Marjinal, Thumband, Lokal Embience, dan Bunga Trotoar.n red.

Iskandar

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Sepulang dari makan di warung Mbakyu di daerah Tebet, aku mampir di sebuah toko kecil penjual pulsa. Sebenarnya aku lupa kalau mau beli pulsa, tapi mendadak aku ingin berhenti, karena aku melihat ada sesosok yang sedang nongkrong di bakul pulsa. Dan rasanya aku memang pernah melihat pria yang lumayan setengah tua itu.

Begitu aku dekati, benar saja pria itu adalah Mas Is, pria yang biasa tampil menyanyi di BB’s Cafe Menteng, jika hari Jumat. –Hari Jumat malam Sabtu, adalah sesi Blues Night di kafe kawakan yang berlokasi persis belakang Hotel F1 sekarang itu–.

Pria gondrong, yang mulai dipenuhi uban itu, adalah Iskandar. Lelaki yang membawa musik Blues masuk ke Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, di setiap hari Senin malam Selasa.

Iskandar adalah penyanyi Blues dengan segudang pengalaman, dan hidup dari panggung ke panggung. Ia sering aku lihat di TVRI acara musik Blues Nite, bersama mantan personil Krakatau Doni Suhendra. Sejak masih tinggal di Surabaya, aku suka memperhatikannnya lelaki ini. Karena tampilannya yang apa adanya, tapi mengesankan. Dan keren lohhh kalau sudah nyanyi Blues. Dia bisa dibilang orang ndeso tapi nyanyi londo…..

Siang itu, Mas Is, nongkrong didepan counter pulsa, sambil ditemani secangkir kopi dan tangan yang mencengkeram seputung rokok Djie Sam Soe. Dalam bayanganku, Mas Is nampak memelas dan cukup tidak terawat. Perbincanganku dengannya cuma sebentar. Sambil aku mengisi pulsa, mulut pria itu nerocos terus, seakan kita sudah pernah kenal lama. Dia bahkan tiba-tiba bercerita soal yang bersifat pribadi. Misalnya, soal statusnya yang makin jomblo saja. “Yo wis ngene iki, sak iki lagi jomblo rekk,” katanya memakai bahasa Jawa Timuran.

Mas Is bahkan menganggapku masuk di komunitas Bulungan, yang sering menontonnya tampil bersama Gugun, gitaris blues, Enti, basis cabutan, yang terakhir ternyata sering diajak konser oleh Iskandar.

Dia bercerita antara lain, tinggal di daerah Rasamala 4 Tebet Dalam, tinggal di kos-kosan yang sumpek dan murah. “Enak sih,” katanya, “cuma kalau keluar pake ojeknya agak jauh.”

Mas Is, yang sangat fasih menyanyikan lagu-lagu Blues seantero jagat itu tiba-tiba bercerita, ia tinggal di kos-kosan seharga Rp 450 ribu per/bulan. Sudah gak kuat lagi kalau harus menyewa tempat yang mahal. Karena penghasilannya memang makin tidak bisa dipastikan. Kehidupannya nampak seperti semakin menyedihkan. Tanpa keluarga, entah tanpa apalagi dia. Tapi yang hebat, dia tetap sebagai musisi hebat. Konsistensinya yang hebat….

 

Pak Nas

•Mei 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

13 Mei 2008. Jam di hpku menunjukkan pukul 12.50 wib. Tiba-tiba, ponsel yang aku letakkan disamping note bookku, menyala. — Karena sengaja aku silent, karena 10 menit sebelumnya ada telpon masuk dari orang yang membuatku malas untuk mengangkatnya—. Langsung saja, aku angkat telpon dari Una. 

“Aku baru ketemu pak Nas, di kantornya. Duh kantornya gede banget. Tau gak sih, padahal orang antre banyak banget lho diluar untuk ketemu dia, tapi aku disuruh masuk duluan,” kata Una dengan genitnya. Una menemui Pak Nas dalam rangka untuk memberikan undangan pernikahan kami.

Pak Nas, tak lain adalah Prof Dr Nasaruddin Umar, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departemen Agama, yang sedianya akan kami dapuk menjadi saksi sekaligus penceramah di acara resepsi pernikahan kami nanti.

Jauh-jauh hari, kami sudah merencanakan berusaha, agar Pak Nas bersedia menjadi penceramah di acara pernikahan kami nanti. Kira-kira sebelum aku akhirnya melamar Una, Una pun bahkan sudah sounding ke pak Nas.

Guru Besar Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu, dikenal sebagai sosok yang konsisten terhadap bidang kajian tentang perempuan. Dikenal pemikir yang cukup moderat. Penafir al Quran kontemporer yang mencoba membongkar nilai-nilai lama.

Dalam bukunya, Teologi Perempuan: Antara Mitos dan Kitab Suci, Nasaruddin misalnya, menemukan dua unsur penting yang berkontribusi dalam pembangunan wacana keagamaan yang bias gender tentang perempuan, yakni faktor teologi dan mitos. Menurutnya, terkadang dasarnya mitos, tapi dianggap kitab suci. “Dari sinilah saya mencoba mengklarifikasi yang mana kitab suci dan yang mana mitos; yang mana budaya Arab dan yang mana doktrin Islam. Poin ini kan perlu kita clear-kan,” kata Nasar, dalam sebuah wawancara dengan tim Jaringan Islam Liberal (JIL).

Seperti lazim dipahami para penafsir kontemporer, al-Qur’an diasumsikan sebagai produk sebuah budaya tertentu (muntâj tsaqâfi). Artinya, beberapa kandungan al-Qur’an ditegaskan sebagai refleksi atas persentuhannya dengan kondisi sosial-budaya di mana Al-Quran diturunkan. Untuk itu, selain diyakini mengandung ajaran-ajaran universal dari Allah, Al-Qur’an juga dianggap berhasil berdamai dengan beberapa tradisi setempat.

Karena itulah, antara lain memilih pak Nas sebagai penceramah di acara kami. Dengan harapan, ada berkah dan pencerahan. Amin ya rabbal alamin…

Betapa Organize-nya aku…

•Mei 9, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kamis, 08 Mei, aku dan Una berjanji akan bertemu dengan personil Redless. Band yang rencananya akan mengiringi resepsi pernikahan kami nanti. Sejenak sebelum kami bertemu dengan para personil band tersebut, kami makan dulu di Bakmi Karapitan. Meskipun aku agak sedikit malas makan, tapi Una memaksaku untuk memesan makanan.

“Aku gak makan ah,” kataku. “Nggak, kamu harus makan, kalau laper nanti kamu bete,” kata Una memaksaku. Dengan terpaksa pula, aku pun memesan Soto Betawi, yang biasa aku pesan jika aku ke Bakmi Karapitan.

Bakmi Karapitan memang tak jauh dari tempat anak-anak Redless manggung, yaitu MU Cafe, di lantai 2 gedung Sarinah Thamrin. Tak lama setelah aku melahap makananku, kamipun bergegas dan langsung masuk MU Cafe untuk menemui anak-anak Redless yang saat itu sedang perform didepan para pengunjung cafe. Baru saja menjulurkan kaki di mulut cafe, lagu Afgan: terima kasih cinta, menyeruak sedang dinyanyikan Redless.

Kami menemui anak-anak Redless, hanya untuk memberi catatan rundown acara, yang kami design. Catatan tentang berapa lagu, dan apa saja permintaan lagu yang mesti dimainkan. Meskipun tidak juga berlaku kaku. Karena prinsipnya kami menyerahkan acara ke anak-anak Redless sebaiknya menyanyikan lagu apa saja., agar tidak melenceng dari skedul. Karena sebagai band Cafe yang cukup malang melintang menjadi penghibur, aku pikir mereka memang cukup piawai memainkan psikologi penonton.

Lagu-lagu yang kami sodorkan bervariasi dari lagu era 70-an, 90-an hingga 2000-an. Lagu-lagu inipun representasi tiga kepentingan, Mamanya Una, Una dan aku. Sehingga, karena ini bentuk keterwakilan, Una terutama, cukup khawatir jangan-jangan Redless tidak bisa memainkan lagu-lagu tersebut terutama yang era 70-an. Karena generasinnya memang jauh. Meskipun aku sudah ingatkan, anak-anak band itu cukup biasa mengulik (istilah mengerjakan lagu) lagu. Bahkan lagu-lagu yang cukup sulit sekalipun.

Atas dasar ketakutannya itu, Una pun, bersusah-payah memborong sejumlah CD di Aquarius, terutama tembang-tembang lawas. Sebut saja Waldjinah, atau entah siapa pengarangnya yang lagunya Euis itu lohhh, dan lagu-lagu Melayu pesanan mamanya. Ini juga aku lupa judulnya, yang jelas ada lirik ..”pak ketipak tipuk deeeee…..hehhe

Selain menyerahkan rundown, Una juga membawa segebok CD yang baru saja ia beli untuk dipelajari anak-anak Redless. Begitu kami menyerahkan rundown, Didie sang gitaris begitu baca langsung menyanyikan semua lagu yang ada di rundown. Semua sudah diluar kepala. Bahkan lagu-lagu model Yen Ing Tawang Ono Lintang, punya Waldjinah pun sudah hafal di luar kepala.

Didie pun sempat melepas satu bait tembang congratulation. Lagu pertama pilihan Una. Waduh…gawat nih. Jadi, CD-CD yang telah kami beli seperti gak ada artinya. Hanya saja dia minta albumnya Sujewo Tejo, yang memang album Indie, yang enggak seterkenal lagunya Tompi atau Rosa dengan ayat-ayat cinta nya itu. waduhhh capek deeeeeeeeeeee…………….

Sekeluarnya kami dari MU Cafe, baru berjalan beberapa langkah Una, langsung nyeletuk: “Gitu tuh, betapa Organize-nya aku.” Ungkapan itu, hanya untuk pamer sebenarnya, betapa apa yang harus dilakukan itu mesti tertata dan tidak asal-asalan saja. Misalnya, dengan hoby barunya yang doyan menumpuk CD itu. heheh Selamat ber organize-organize deeeee…..

HDV Camera

•Mei 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hasrat memburu gambar sesuai dengan tampilan aslinya menjadi cikal bakal dimulainya era tekhnologi High Definition. Ini pula yang mengilhami Sony dalam menciptakan handycam HDR-FX1E. Ini adalah kamera pertama yang mengaplikasikan teknologi HDV 1080i.High Definition plus High Performance pastinya membuat kualitas video dan suara tampil brilian. Semua itu dimungkinkan lantaran HDR-FX1E punya resolusi 1440 piksel x 1080 lines.. Jauh di atas kamera konvensional yang hanya mampu bermain di 720 piksel x 480 lines. Efeknya, ya seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, tajam, hidup dan brilian.

Kelebihan lainnya, HDR-FX1E menggunakan MPEG-2 sebagai format kompresi untuk merekam HD video yang dapat diputar di MiniDV tapes. Carl Zeiss Vario-Sonnar T lens dapat mengurangi penyimpangan gambar sekaligus memaksimalkan contrast dan reproduksi warna. Users juga bisa melakukan zoom objek sebanyak 12 kali dengan banyak pilihan mekanisme kontrol zoom.

Tidak perlu khawatir jika Anda belum punya monitor dengan teknologi HD. Soalnya, HDR-FX1E menawarkan fleksibilitas dalam memilih media untuk menikmati hasil rekaman. Kasarnya, mau diputar di mana sajapasti bisa lantaran ada teknologi HDV/DV switching system. Fitur lain yang wajib dicermati adalah SwivelScreen? hybrid LCD yang menawarkan 250.000 piksel. Sony mengklaim ini adalah resolusi tertinggi camcorder LCD yang ada di pasaran.

Formula dalam HDR-FX1E sangat cocok digunakan dalam dunia penyiaran. Jadi bagi para pewarta, kamera ini bisa memudahkan Anda dalam menjalankan tugas jurnalistik Anda. Untuk para pembuat film khususnya bagi para pemula, kamera ini juga dapat dipakai karena hasil rekaman dipastikan bakal tidak mengecewakan.

 

 

 

 

 

 

jalan cinta

•Mei 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Lagu ini, pertama kali aku dengar dalam film ayat-ayat cinta yang aku download dari youtube.com. Belum juga aku memahami liriknya, tapi pengembaraan nadanya cukup unik dan membuat bulukuduku, serasa merinding. Jiwaku serasa dipijit-pijit. Tak kuasa aku menghela nafas panjang untuk terus mengunyah keelokan suara Sherina yang pas banget dengan lagu ini.

Yang lebih keren lagi, lirik dan lagu ini diciptakan oleh Sherina sendiri. Gadis yang mulai tumbuh matang di dunia seni musik. Dan sepertinya baru kemarin, gadis itu aku tonton dalam film petualangan Sherina. Perempuan kecil dengan segala kelucuan dan keluguannya.

luega rasanya….

•Mei 3, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

  

 

Lega rasanya setelah mendesign undangan pernikahanku ini. Lega antara lain, karena satu pekerjaan selesai. Dan tentu saja juga si Una tidak lagi “menerorku” untuk setiap saat menelpon dan mencecar menanyakan pekerjaan membuat undangan. Meskipun, belum selesai semuanya, tapi akan segera dicetak.

Yang membuatku lega juga, akhirnya Una juga akhirnya tak terlalu sulit menerima design undangan yang aku bikin. Meskipun sebelumnya sempat berdebat abis, sampai aku sedikit kesal. Teras kantor LBH Pers di Pancoran menjadi saksi bisu “pertikaian” kami. Karena dengan enaknya Una mempertegas kekecewaannya atas design yang aku bikin dengan penuh cinta ini. Tiba-tiba saja dia kecewa, ntah atas dasar apa? setelah aku jelaskan betapa susahnya mencari gambar yang sesuai dengan konsep autumn.

Bahkan terpaksa aku tunjukkan bagaimana prosesnya aku mendapatkan gambar daun-daun jatuh berguguran itu. Terhampar gambar-gambar yang indah memang, setelah aku search di google dengan keyword autumn photo gallery. Tapi tidak semua gambar indah itu akan bisa sesuai dengan karakter undangan. Dengan penjelasan yang sedikit membutuhkan kesabaran itulah, akhirnya dia menerima keputusanku atas design ini.

Intinya, undangan ini penuh perdebatan. “Penuh darah dan air mata”. Mulai dari diksinya, yang menurut Una harus mengunggulkan kesetaraan gender, sampai penolakannya terhadap terjemahan departemen agama perihal Surat Ar Rum:21, yang menurut Una tidak berspektif gender. Aku bisa berdebat soal ini, tapi mungkin bisa jadi “anarkis” kalau aku mulai dengan argumentasiku. Karena jelas aku juga punya pandangan yang berbeda dengan Una soal teks dan pemahamanku tentang bahasa Arab.

Tapi seperti biasa aku putuskan untuk mengalah. Agar design undangan segera selesai, karena kerjaan lain masih menanti. Hal yang menurutku lebih subtansial dan tidak semata simbolistik lebih banyak. (apa cobaaa???….)

Semoga undangan ini segera selesai dan kawan Panel Barus yang saya percaya, segera mencetaknya. Sehingga tidak lagi membangunkan aku setiap kali aku ingat pekerjaan ini. Eitttt, tentu saja pekerjaan selanjutnya, masih terus menyusul. Paling tidak satu persatu pekerjaan selesai jelang 22 Juni ini.

Malam Pulogadung,

Cak Tompi

•April 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Tompi. Nama asli penyanyi asal Mon Geudong, Lhokseumawe, Teuku Adifitrian. Pertama kali aku melihatnyaa perform di panggung Jazz Go to Campus di Universitas Indonesia (UI) pada 2005. Saat itu, dia tiba-tiba didapuk oleh Idang Rasyidi, pemain keybord kawakan itu. secara kebetulan vokalis bandnya belum datang. spontan saja Tompi, yang kebetulan ada di lokasi langsung disuruh tampil oleh Idang.

“Karena vokalis saya belum datang. Maka saya ingin tampilkan penyanyi yang sedang naik daun. Coba kita panggil, Tompi,” kata Idang dengan keras. Karuan saja, tepuk tangan langsung riuh menyambut Tompi.

Saat itu Tompi belum seterkenal seperti sekarang ini. Tapi waktu itu aku udah feeling dia bakal melejit. Karakter bernyanyi Tompi, meskipun sedikit cempreng, tapi unik. Karakter suara jazzy, yang bisa beradaptasi dengan pop. Sehingga, terutama ketika saat menyanyikan lagu-lagu renyah dan cinta terasa lebih mengena.

Lagu Balonku misalnya, yang menjadi lagu wajib anak kecil, bisa dia ubah menjadi jazzy dan terasa lain dengan aslinya. Atau lagu something wrong, saat mengawaki Bali Lounge, kumpulan musisi-musisi campuran bule, Indonesia dan Malaysia. Di lagu itu Tompi cukup merepresentasikan generasi baru Jazz Indonesia, yang benar-benar mulai tumbuh. Banyak kalangan muda yang keranjingan dengan lagu-lagu Tompi.

Sejak memulai Debutnya di blantika musik Indonesia, dalam waktu yang tidak cukup lama, Tompi sudah mengantongi beberapa album diantaranya, Cherokee (2004), Bali Lounge (2004), T  (2005), Soulful Ramadhan (2005), Playful 2007, dan My Happy Life (2008. Ini prestasi yang luar biasa, disela-sela aktifitasnya menjadi dokter.

Yah, Tompi memang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang saat ini sedang mengikuti program bedah plastik. Kalau mau tau, saat ini dia biasa berkantor di RSCM Jakarta. So, selamat ya Tompi.

 

 

 

27 april 2008, yang menyenangkan

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

genit deeeeeeeeeeeeee