ini ni jawaban om SBY…sok ga ciiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhh
Di sebuah pagi 25 Mei 2008.
Jam 09.00 wib, perutku laper banget. Karena tak tahan lagi, aku mampir di warung Padang di bilangan Duren Tiga Jakarta Selatan, sebelum aku ke Rempoa ke rumahnya Una untuk ikut rapat persiapan pernikahan kami. Mungkin aku orang pertama yang menghampiri warung itu. Menunya pun hanya beberapa saja yang sudah siap. Ikan Kembung bakar plus cabe hijau kesukaanku di warung itu pun belum selesai dimasak.
Karena tak tahan, akhirnya aku memesan apa saja yang ada disitu. Kupilih Ikan Mujahir goreng dan Peyek Udang. Baru beberapa jumput kumelahap makanan, secara tidak sengaja lagunya Bos Iwan Fals, Galang Rambu Anarki, menggema di warung itu. Lagu yang sedari kecil aku sering dengarkan. Lagu yang bercerita tentang kelahiran anak Iwan Fals yang kebetulan pas melambungnya harga BBM. Bahkan susupun tak terbeli.
Lagu ini aku dengar setelah 2 hari sebelumnya, (Jumat 23 Mei 2008), pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM 30 persen. Premium yang semua Rp 4.500 per/liter menjadi Rp 6 ribu. Waduh makin berat saja beban hidup ini. Atas dasar itu, sebagian teman bahkan ada yang langsung mengganti mobilnya dengan motor. Yang motornya Yamaha King, 2 tax langsung ganti Supra Fit. Semua orang beramai-ramai mengubah pola hidupnya.
Aku yang biasa mengisi bensin full tangki 15 ribu, sekarang sudah naik menjadi 20 ribu. Jadi akupun harus mengurangi aktifitas. Yang biasa bisa jalan minimal 25 kilo per hari, saat ini harus maksimal 20 kilo. Memang pilihannya hanya itu ternyata. Bagaimana bisa survival ditengah kesulitan semua orang.
Aku mungkin masih mending. Karena masih bisa makan di warung padang sekali makan 15 ribu. Tapi banyak teman yang ternyata lebih susah banget. Harus mulai rela setiap kali makan di Warteg dengan pilihan menu telor goreng sama sayur asem, plus air putih. Banyak teman yang akhirnya memilih minum tanpa warna.
Sejumlah teman kantor cerita kalau tetangganya sudah mulai pontang-panting kebingungan dengan konsumsi susu buat dua anaknya. Benar saja, susu juga melambung tinggi. Susu Dancow yang katanya sebelumnya masih 55 ribu per kotak. Kini sudah menjadi 80-90 ribu. Kalau melihat cerita teman-teman kantor, rasanya pingin ngamuk melihat negara ini. Semakin banyak jumlah penduduk miskin di negara ini. Koran Tempo 29 Mei hari ini misalnya, menurunkan laporannya penduduk miskin pada tahun ini menjadi 4,5 juta jiwa akibat kenaikan harga BBM. Total orang miskin akan bertambah menjadi 41,7 juta jiwa atau 21, 92 dari total penduduk Indonesia. Ini melebihi perkiraan pemerintah 14,8 sampai 15 persen.
Dan gilanya lagi, orang masih pusing dengan urusan BBM, pemerintah juga menaikkan tarif tol sekitar 12, 43 persen per Jumat Dini hari, 23 Mei. Surat telah ditandatangani menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Orang gila semua itu. Negara ini sepertinya memang pinginnya menghancurkan rakyatnya. Negara yang tak tahan segera melihat rakyatnya menggelepar kesakitan. Coba kalau niatnya “sedikit” baik, mbok ya ditahan misalnya, jangan dulu. Nunggu stabil akibat kenaikan BBM ini. Jasa Marga itu kan monopoli. Kalau ditahan sebentar juga apa ruginya? gak kan?…..Emang hoby kali membuat rakyatnya menderita.
Kenaikan harga BBM kali ini akan terus tercatat dalam sejarah ingatan hidupku. BBM naik saat aku akan melangsungkan pernikahan. Semakin membuatku tidak percaya sama negara ini. Benci sekali aku sama negara ini. Tidak bisa lagi aku bertakzim sama pemimpin di negeri ini. Semuanya hanya mengurus perut sendiri. Para pemimpin yang merasa sudah selesai melakukan banyak buat banyak orang. Solusinya turun jalan!!! lawan kenaikan harga BBM. Lawan kenaikan BBM. BBM adalah MONSTER…!!!!!!
Bersatulah rakyatku, melawan pemimpin yang zhalim…Sekali hidup berarti habis itu mati!!!!










