Guangzou

•Mei 5, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

suatu ketika, aku berkesempatan pergi ke luar negeri. Tepatnya ke Guangzou, China. Satu propinsi di China yang dikenal dengan kawasan industri. perjalanan sekitar 6 jam dari Jakarta ke Guangzou.

Iklan

http://202.129.216.67/~tvone/index.php/arsip/newsdetail/6852/israel-dan-hamas-rilis-video-perang-kota

•Februari 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

oh bapakku…

•November 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

bapak-motor3

Bapakku. Betapa kesepiannya ia kini. Tak lagi ada anak-anaknya di rumah. Semuanya jauh. Aku di Jakarta, dan kedua adikku: Ilyas dan Afifah tinggal di Surabaya bekerja dua-duanya. Kecuali hanya makku (ibuku) saja yang menemaninya. Cuma, ada satu si kecil kini yang selalu menjadi temannya sekarang. Yaitu Habib, anak tetangga yang masih 3 tahun.

Kemana bapakku pergi, anak itu maunya ngintil (ngikut). Termasuk saat bapakku mau bekerja. Seperti anaknya sendiri, Habib selalu diajak bapakku kemana-mana. Di rumah, Habib, selain neneknya adalah bersama bapakkulah teman bermainnya.

Anak tetangga itu kalau siang ditinggal ibunya bekerja di pabrik kertas. Sementara bapaknya pergi ke sawah. Dan sesekali ngarit (mencari rumput untuk ternak). Akhirnya sama-sama kesepian, bapak dan ibuku yang kesepian pun, akhirnya menjadikan Habib seperti anaknya sendiri. Aku merasakan betapa dekatnya hubungan mereka sekarang ini. Terlihat manja. Habib bahkan lebih dekat dengan bapakku daripada ke bapaknya sendiri.

Dengan motor butut tahun 1974, Yamaha Super, Bapak suka mengajak Habib jalan-jalan. Kalau tidak lagi bekerja.  Habib, anak yang lucu memang. Waktu aku di rumah, dia selalu ingin aku gendong dan dekat denganku dan tak mau pulang ke rumahnya. Bahkan ketika aku pamit balik ke Jakarta, ia sempat menangis dan menolak bersalaman denganku. Enggak tega aku melihatnya…

Habib, sekarang sudah menjadi bagian dari keluargaku. Termasuk kalau makku ada kue, atau makanan maka Habib adalah anak yang dicari pertama kali. Habib sekaligus bagian dari kesepian bapak dan makku.

Terima kasih Habib, kaulah wakil kami anak-anaknya yang telah jauh ini….terima kasih Habib yang telah menjadi teman bapakku kini.

 

bapak-motor21

Pakwo Man & Mbok Girah

•November 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

100_4445

 

1 november lalu, aku berkesempatan pulang dan berkumpul keluargaku di Mojokerto Jawa Timur. Meski singkat, yaitu cuma 2 hari aku di rumah, tapi itu lebih dari cukup untuk menyegarkan ingatanku tentang kampung, dimana menjadi tempatku lahir. Kecil dan tumbuh besar di kampung namanya Batan Krajan.

 

Begitu aku tiba di rumah, langsung saja suasana kampung menyeruak. Tetangga-tetangga pada mendatangiku. Langsung ngumpul sambil bersimpuh dilantai teras rumahku. Suasana hangat terasa sekali saat itu. Mbok Girah tetangga samping rumahku, pertama kali datang dan langsung mencubitiku. “Mana istrimu, mana istrimu,” itu kata pertama yang terlepas darinya.

 

Mbok Girah adalah tetangga samping rumahku yang suka baik sama aku sejak kecil. Di rumahnyalah, dulu aku suka numpang mendengarkan radio. Di rumahnyalah aku suka mendengar lagu-lagu mulai Rhoma Irama, ludruk, dan tentu saja Kartoloan (acara lawak Jawa Timuran) dan lain-lain, karena aku tak pernah memiliki radio. Radio National ukuran 10 X 7 cm, dengan antena berantarakan yang hampir putus. Yang harus pintar-pintar memutarnya kalau suaranya sudah mulai kresek-kresek enggak jelas.

Dan sering menjadi tugasku jika baterainya sudah mulai sowak, aku suka disuruh berhenti sejenak mendengar radio, dan mengeluarkan baterai ABC-nya diatas genting rumahnya. Entah siapa yang memberitahunya, hingga cara itulah dianggap bisa menambah daya battery.

 

Semasa aku kecil, mbok Girah, adalah orang yang paling sering memberi nasi Jagung, kalau aku lagi merengek meminta nasi jagung. Aku masih ingat, dia suka langsung mendatangiku menawarkan kalau aku lagi menangis gara-gara ibuku tidak memasakkan nasi jagung kesukaanku. Bahkan aku masih ingat, ibuku suka menukarkan nasi putih dengan nasi jagung miliknya. Gara-gara tak enak dengan Mbok Girah.

 

Mbok Girah memiliki suami, yaitu Kasman. Aku biasa memanggilnya Pakwo Man. Pakwo Man, adalah orang yang baik sekali. Sepanjang hidupnya, ia hanya bergelut dengan Kerbau dan alat pembajak sawahnya. Pekerjaan utamanya adalah memelihara Kerbau dan membajak sawah jika ada petani membutuhkan bantuannya.

 

Semasa kecil, adalah Pakwo Man lah yang sering mengajak ke sawah dan menyuruhku menumpang kerbaunya. Aku berada diatas kerbau, sementara dia memegang tali pengendali sambil berjalan mengikuti langkah kerbau menuju sawah. Setelah itu, lantas ia selalu mengajakku makan nasi bontotan (nasi bawaan dari rumah) bikinan Mbok Girah, yang dibungkus menggunakan klaras. (Klaras adalah daun pisang kering, yang biasa dipakai petani di kampungku untuk membungkus nasi (bontotan), yang dipahami bisa menambah rasa sedap pada nasi putih).

 

Makan nasi putih atau terkadang nasi jagung plus sambal trasi ditambah lauk cukup ikan klotok adalah khas biasa kami makan di pematang sawah disela-sela waktu istirahat pengerjaan sawah. Seperti biasa, meski cuci tangannya memakai air sawah, tapi cuek saja dan rasanya pasti enak. Rasanya tak kalah dibandingkan dengan Kepiting Alaska di Long Seafood di Senayan City yang harganya Rp 2,5 juta per/porsi hihihhih…..

 

 

Itu dulu. Kini Pakwo Man, sudah tak sesehat dulu lagi.

 

“Pakwo,” sapaku.

Sinten niku, (siapa itu),” sahutnya.

Niki kulo Pakwo Man (ini aku Pakwo Man).

Eeehhhh naaaak, kapan teko? (Duh nak kapan datang?)

 

Kalimat itu keluar saat aku mendatangi rumahnya. Hatiku tentu saja bergelayutan melihat Pakwo Man yang sudah tak melihatku lagi itu. Tempat satu-satunya buatnya kini adalah hanya di teras depan rumah. Dibawah teras depan rumahnyalah kini dia hanya bisa duduk di lantai. Dan hari-harinya hanya duduk di tempat itu.

 

Selain sudah tak melihat lagi, untuk kencing pun kini ia sudah menggunakan alat Bantu selang. Kenyataan itu menambah robek hatiku. Aku tak tahan melihat penderitaan dia sekarang ini. Orang yang dulu sangat menyayangiku, orang yang berusaha menghiburku dengan mengajakku menumpang kerbaunya, orang yang dulu suka memberikan nasi jagung kesukaanku, orang yang memberikan radionya untuk aku dengar, kini keadaannya sangat memprihatinkan. Tidak mendapatkan perawatan yang layak.

 

 

Dengan keterbatasan fisiknya sekarang ini, Pakwo Man, ternyata tak menyerah dengan hidup. Ia masih berusaha pergi ke sawah dan menanam jagung di Pulo. (Pulo adalah lahan pinggir kali belakang rumahku). Dengan caranya ia pergi ke sawah. Meski Mbok Girah selalu melarangnya untuk ke sawah.

 

Perkawinannya dengan Mbok Girah tidak dikarunia anak. Itulah yang kemudian membuat keluarga ini mengadopsi 2 anak saudaranya: yaitu Cak Paidi dan Sutiyem (Yu Yem).

 

Pakwo Man, meski sudah tak melihat lagi namun kebahagiaan nampak terpancar dari keriput raganya. Kebahagiaan ia dapatkan, ketika sudah merasa selesai dengan semuanya. Tugas hidupnya, mengantarkan dan menemani istri, kedua anak adopsinya, serta 5 cucu yang lucu-lucu…keabadian cintanya begitu menjadi mozaik terindah dalam hidupnya….

 

Terima kasih Pakwo Man, kau ajarkan kesederhanaan, dan kebaikan kepada sesama serta ketulusan yang indah… terima kasih. 

 

 

100_4437 

mujahid abdul wahab

•November 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

n711265673_867616_3720 suatu hari, lupa aku tanggalnya. mendadak handphoneku berbunyi tut tut tut…muncul sort messege service (sms) yang dikirim seorang kawan yaitu Tanchos. Kawan itu mengabarkan kalau sahibku Mujahid Abdul Wahab, sedang persiapan hendak melakukan operasi batu ginjal. hah???

Betapa kagetnya aku, kawanku itu tiba-tiba harus menjalani operasi atas penyakitnya. Yaitu batu ginjal.

kaget karena aku tak menyangka. sekitar seminggu sebelumnya, kawan asal Malaysia itu masih bertemu aku dan sempat jalan-jalan keliling Jakarta bersama rekan satu lagi yang juga warga negara Malaysia, yaitu Sahrul.

Ada rasa menyesal karena aku tak bisa menjenguknya karena letak kami yang memang saling berjauhan. Aku hanya bisa membayangkan betapa kawanku itu sedang bergelut dengan penyakit yang sedang menggerotinya…

Dalam bayanganku, betapa sedih keluarganya. Anak tertua dari delapan bersaudara (kalau gak salah ya) itu tergolek lemas bergelut dengan penyakitnya. Ibu dan adik-adiknya pasti khawatir dengan Alungnya itu (panggilan kakak tertua di keluarga Mujahid). Rasa deg degan pasti terus menghantui keluarganya, selama operasi 7 hari 8 malam itu.

Ya, Mujahid adalah tulang punggung keluarganya. Sekaligus bapak dari adik-adiknya. “Saya harus baik sama adik-adik saya. Karena saya sebagai pengganti bapak,” ucap Mujahid suatu ketika kepadaku pada suatu malam di Menara Thamrin.

Mujahid adalah sosok kakak, sekaligus bapak yang baik memang. Sepanjang ingatanku ia tak pernah berkata kasar kepada adik-adiknya. Selalu terbangun kesan, ia baik sama keluarga. Mengayomi. Begitu luas hatinya untuk menerima keadaan apapun. Ada samudera nan luas didalam jiwa Mujahid. 

Bahkan ialah yang mengajari adik-adiknya untuk berwiraswasta. Ada Icing, misalnya yang saat ini mulai tumbuh usahanya dengan berjualan Sisha. Bahkan adiknya itu telah merambah Malang, Jawa Timur dalam mengelola bisnisnya. Atau Imad, yang juga mulai meniru jejak kakak tertuanya itu dengan berbisnis.

Mujahid adalah pebisnis yang tangguh. Perkenalanku dengannya saat ia masih menjadi bagian dari group nashid Nowseehearth. hampir 8 tahun kami berkawan. Banyak juga suka dukanya. Mujahid adalah sosok yang tenang. Bak air yang selalu menawarkan kesegaran bagi yang meminumnya. Ialah sosok yang tenang itu.

Dan, akhirnya semoga Mujahid cepat sembuh. Ia kembali dalam keluarga yang mendambanya. Dan kita kembali bersua dalam harapan-harapan. semoga-semoga. Amin…

semoga cepat sembuh kawan..!!!

TAKBIR ITU KINI…

•November 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

allahu_akbar

DULU, SELALU AKU MENDENGAR TAKBIR DARI SURAU-SURAU, MESJID, SERTA DI SETIAP JENGKAL GERAK DALAM IRAMA SHALAT LIMA WAKTU. DAN ACARA-ACARA RITUAL TERTENTU DI KAMPUNGKU. SEMISAL TAHLILALAN, MANAQIB, DAN LAIN-LAIN. ATAU SAAT YANG PALING MENYENANGKAN: TAKBIR KELILING KAMPUNGKU UNTUK MEMBUKA DATANGNYA IDUL FITRI, ATAU IDUL ADHA. SAMBIL MEMBAWA OBOR BIKINAN BAPAKKU, HASIL MEMOTONG TANAMAN BAMBU BELAKANG RUMAH NENEKKU.

Dan rasanya SEMUA ITU, seperti berada dalam pelukan tuhan, SERASA DALAM BAYANG-BAYANG TUHAN YANG PENUH KELEMBUTAN DAN INDAH. TIADA HARI KECUALI KUKUMANDANGKAN TAKBIR ITU DENGAN PENUH SEKSAMA. BERHARAP RAHMAT ALLAH SWT, DAN RIDHO-NYA HADIR DISETIAP JENGKAL LANGKAH DAN KEHIDUPANKU.

MOTIVASI ORANG MENGUMANDANGKAN KATA AGUNG ITU, SEBAGAI PENGAKUAN BAHWA MANUSIA INI KECIL. TAK BERDAYA TANPA ADA KUASA-NYA. SEKALIGUS WUJUD SYUKUR ATAS KARUNIA YANG TERAMAT BESAR YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA.

TAPI, KINI TAKBIR ITU DIKUMANDANGKAN ORANG DENGAN EMOSI, MARAH, UNGKAPAN PEMBUKA SAAT AKAN MELAKUKAN PERUSAKAN BANGUNAN RUMAH, DISKOTIK, DITERIAKKAN UNTUK MEMBELA TERDAKWA ORANG YANG TERSERET DALAM KASUS KEKERASAN. DAN…. SEMUA ITU MENYAKITKAN, MEROBEK HATIKU, MENGUNYAH-NGUNYAH SEJARAH INGATANKU TENTANG KEBAIKAN TAKBIR….

AKU BAHKAN CENDERUNG MALU, SAAT ORANG MENGUCAPKAN KATA ITU KINI. NILAINYA TELAH LENYAP DIBOMBARDIR PEMAHAMAN YANG “KELIRU”. KEKERASAN YANG DIBALUT TAKBIR..KEKEJAMAN MENGATASNAMAKAN TUHAN.

PADAHAL, TUHAN PEMILIK ALAM SEMESTA INI, TAK MENYUKAI ORANG ATAU HAMBANYA BERBUAT KERUSAKAN, ANIAYA DAN KEKERASAN.

JUBAH PUTIH ATAU SORBAN, YANG DULU AKU PAHAMI SEBAGAI SIMBOL-SIMBOL KESALEHAN ORANG DAN SOSIAL. KINI TELAH RUNTUH. PEMAKAI JUBAH SEKALIGUS PEMEGANG BATU UNTUK MELEMPAR ORANG HINGGA BERDARAH-DARAH. PEMAKAI JUBAH SEKALIGUS JUGA PEMEGANG PENTUNGAN MERUSAK WARUNG-WARUNG KECIL PENJUAL NASI DI BULAN RAMADHAN.

JUBAH PUTIH TELAH DITAKUTI BUKAN KARENA KESANTUNANNYA. TAPI DITAKUTI KARENA DIA AKAN MERUSAK. MENGANCAM PERIUK NASI ORANG. MENGANCAM EKSISTENSI RAKYAT KECIL YANG SESUNGGUHNYA HANYA SEKADAR MENCARI SESUAP NASI BUAT KELUARGNYA.

TAKBIR, JUBAH PUTIH, SORBAN PANJANG, TELAH BERUBAH MONSTER MENAKUTKAN. MENGANCAM KEBEBASAN BERKREATIFITAS. MENGANCAM PERBEDAAN. DAN AKUPUN TAK TAU LAGI HARUS MENGUCAPKAN APA SEKARANG? TAKBIR, MEMAKAI JUBAH, ATAU MENGUCAPKAN KATA-KATA JOROK DAN KOTOR. PEMEKIK TAKBIR DAN PEMAKAI JUBAH ITU TELAH MENGABURKAN NILAI-NILAI AGUNG AGAMANYA.

TUHAN MEMERINTAHKAN CARA MENCERITAKAN AGAMA DENGAN ELEGAN DAN ELOK SERTA CERDAS. TAPI TERNYATA AJARAN TUHAN BANYAK DIABAIKAN. BANYAK YANG MEMILIH DENGAN CARA BAR-BAR. PADAHAL SOAL HIDAYAH ITU SUDAH URUSAN TUHANNYA. TUHAN TIDAK PERLU DIBELA, TAPI TERNYATA BANYAK ORANG MENGAKU PEMBELA TUHAN…..

TAK ADA PERBEDAAN MENCOLOK ANTARA KELAKUAN PEMEKIK TAKBIR-TAKBIR ITU, DAN PEN-DISCO DI VENUE, STADIUM, PITSTOP, ATAU ALEXIS. BAU MULUT YANG KELUAR DARI PENGUMANDANG TAKBIR DAN PEMABUK NYARIS TAK ADA BEDA.

AKU MERINDU SAAT-SAAT TAKBIR DIKUMANDANGKAN DENGAN TULUS.TANPA DISUSUPI NIAT-NIAT POLITIS DAN SEKADAR UNTUK MENCARI SEMATA-MATA SETORAN DARI CUKONG ATAU PENGUSAHA DISKOTIK…..

DUH, TUHAN TAK TAHU LAGI HARUS BERBUAT APA AKU INI? AKU BERLINDUNG KEPADAMU DARI PENGANUTMU YANG SUKA BERBUAT KERUSAKAN DAN ANIAYA. HENTIKAN PERBUATAN MEREKA YANG MERUSAKA NAMAMU ITU. SADARKAN MEREKA YANG SUKA BERBUAT ANIAYA ITU…

03.00 WIB DINI HARI PULO GADUNG, 11 NOVEMBER 2008

betapa aku mencintaimu

•September 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Lagu ini tiba-tiba aku putar kembali di laptopku. dan tiba-tiba aku juga merasa miris mendengarkan lagu ini. lagu ini mengingatkan suasana, saat aku sedang sendiri. Hatiku mendadak bergejolak. Sambil tengkurap di kasur di kosan H Sidik 36 B. Ya, memang lagu ini selalu aku putar dengan keras-keras di kamar. seringkali aku tak mempedulikan orang-orang disamping kosku. apakah mereka terganggu apa nggak.

lagu memang, tak bisa memutar sejarah untuk kembali datang. Tapi paling tidak mengembalikan suasana hati. ya lagu ini mengembalikan suasana hati saat kusendiri, sepi, bahagia, dan mengharukan. terima kasih vagetoz yang telah menciptakan lagu ini….

 

Senin, 1 ramadhan 2008