Pakwo Man & Mbok Girah

100_4445

 

1 november lalu, aku berkesempatan pulang dan berkumpul keluargaku di Mojokerto Jawa Timur. Meski singkat, yaitu cuma 2 hari aku di rumah, tapi itu lebih dari cukup untuk menyegarkan ingatanku tentang kampung, dimana menjadi tempatku lahir. Kecil dan tumbuh besar di kampung namanya Batan Krajan.

 

Begitu aku tiba di rumah, langsung saja suasana kampung menyeruak. Tetangga-tetangga pada mendatangiku. Langsung ngumpul sambil bersimpuh dilantai teras rumahku. Suasana hangat terasa sekali saat itu. Mbok Girah tetangga samping rumahku, pertama kali datang dan langsung mencubitiku. “Mana istrimu, mana istrimu,” itu kata pertama yang terlepas darinya.

 

Mbok Girah adalah tetangga samping rumahku yang suka baik sama aku sejak kecil. Di rumahnyalah, dulu aku suka numpang mendengarkan radio. Di rumahnyalah aku suka mendengar lagu-lagu mulai Rhoma Irama, ludruk, dan tentu saja Kartoloan (acara lawak Jawa Timuran) dan lain-lain, karena aku tak pernah memiliki radio. Radio National ukuran 10 X 7 cm, dengan antena berantarakan yang hampir putus. Yang harus pintar-pintar memutarnya kalau suaranya sudah mulai kresek-kresek enggak jelas.

Dan sering menjadi tugasku jika baterainya sudah mulai sowak, aku suka disuruh berhenti sejenak mendengar radio, dan mengeluarkan baterai ABC-nya diatas genting rumahnya. Entah siapa yang memberitahunya, hingga cara itulah dianggap bisa menambah daya battery.

 

Semasa aku kecil, mbok Girah, adalah orang yang paling sering memberi nasi Jagung, kalau aku lagi merengek meminta nasi jagung. Aku masih ingat, dia suka langsung mendatangiku menawarkan kalau aku lagi menangis gara-gara ibuku tidak memasakkan nasi jagung kesukaanku. Bahkan aku masih ingat, ibuku suka menukarkan nasi putih dengan nasi jagung miliknya. Gara-gara tak enak dengan Mbok Girah.

 

Mbok Girah memiliki suami, yaitu Kasman. Aku biasa memanggilnya Pakwo Man. Pakwo Man, adalah orang yang baik sekali. Sepanjang hidupnya, ia hanya bergelut dengan Kerbau dan alat pembajak sawahnya. Pekerjaan utamanya adalah memelihara Kerbau dan membajak sawah jika ada petani membutuhkan bantuannya.

 

Semasa kecil, adalah Pakwo Man lah yang sering mengajak ke sawah dan menyuruhku menumpang kerbaunya. Aku berada diatas kerbau, sementara dia memegang tali pengendali sambil berjalan mengikuti langkah kerbau menuju sawah. Setelah itu, lantas ia selalu mengajakku makan nasi bontotan (nasi bawaan dari rumah) bikinan Mbok Girah, yang dibungkus menggunakan klaras. (Klaras adalah daun pisang kering, yang biasa dipakai petani di kampungku untuk membungkus nasi (bontotan), yang dipahami bisa menambah rasa sedap pada nasi putih).

 

Makan nasi putih atau terkadang nasi jagung plus sambal trasi ditambah lauk cukup ikan klotok adalah khas biasa kami makan di pematang sawah disela-sela waktu istirahat pengerjaan sawah. Seperti biasa, meski cuci tangannya memakai air sawah, tapi cuek saja dan rasanya pasti enak. Rasanya tak kalah dibandingkan dengan Kepiting Alaska di Long Seafood di Senayan City yang harganya Rp 2,5 juta per/porsi hihihhih…..

 

 

Itu dulu. Kini Pakwo Man, sudah tak sesehat dulu lagi.

 

“Pakwo,” sapaku.

Sinten niku, (siapa itu),” sahutnya.

Niki kulo Pakwo Man (ini aku Pakwo Man).

Eeehhhh naaaak, kapan teko? (Duh nak kapan datang?)

 

Kalimat itu keluar saat aku mendatangi rumahnya. Hatiku tentu saja bergelayutan melihat Pakwo Man yang sudah tak melihatku lagi itu. Tempat satu-satunya buatnya kini adalah hanya di teras depan rumah. Dibawah teras depan rumahnyalah kini dia hanya bisa duduk di lantai. Dan hari-harinya hanya duduk di tempat itu.

 

Selain sudah tak melihat lagi, untuk kencing pun kini ia sudah menggunakan alat Bantu selang. Kenyataan itu menambah robek hatiku. Aku tak tahan melihat penderitaan dia sekarang ini. Orang yang dulu sangat menyayangiku, orang yang berusaha menghiburku dengan mengajakku menumpang kerbaunya, orang yang dulu suka memberikan nasi jagung kesukaanku, orang yang memberikan radionya untuk aku dengar, kini keadaannya sangat memprihatinkan. Tidak mendapatkan perawatan yang layak.

 

 

Dengan keterbatasan fisiknya sekarang ini, Pakwo Man, ternyata tak menyerah dengan hidup. Ia masih berusaha pergi ke sawah dan menanam jagung di Pulo. (Pulo adalah lahan pinggir kali belakang rumahku). Dengan caranya ia pergi ke sawah. Meski Mbok Girah selalu melarangnya untuk ke sawah.

 

Perkawinannya dengan Mbok Girah tidak dikarunia anak. Itulah yang kemudian membuat keluarga ini mengadopsi 2 anak saudaranya: yaitu Cak Paidi dan Sutiyem (Yu Yem).

 

Pakwo Man, meski sudah tak melihat lagi namun kebahagiaan nampak terpancar dari keriput raganya. Kebahagiaan ia dapatkan, ketika sudah merasa selesai dengan semuanya. Tugas hidupnya, mengantarkan dan menemani istri, kedua anak adopsinya, serta 5 cucu yang lucu-lucu…keabadian cintanya begitu menjadi mozaik terindah dalam hidupnya….

 

Terima kasih Pakwo Man, kau ajarkan kesederhanaan, dan kebaikan kepada sesama serta ketulusan yang indah… terima kasih. 

 

 

100_4437 

Iklan

~ oleh cintauna pada November 19, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: