way back into love

•Juli 18, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
Iklan

parade 22 juni 2008

•Juli 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

•Juli 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Una dalam dokumen

•Juni 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/25/time/150336/idnews/565541/idkanal/10

monster bbm

•Mei 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

ini ni jawaban om SBY…sok ga ciiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhh

Di sebuah pagi 25 Mei 2008.

Jam 09.00 wib, perutku laper banget. Karena tak tahan lagi, aku mampir di warung Padang di bilangan Duren Tiga Jakarta Selatan, sebelum aku ke Rempoa ke rumahnya Una untuk ikut rapat persiapan pernikahan kami. Mungkin aku orang pertama yang menghampiri warung itu. Menunya pun hanya beberapa saja yang sudah siap. Ikan Kembung bakar plus cabe hijau kesukaanku di warung itu pun belum selesai dimasak.

Karena tak tahan, akhirnya aku memesan apa saja yang ada disitu. Kupilih Ikan Mujahir goreng dan Peyek Udang. Baru beberapa jumput kumelahap makanan, secara tidak sengaja lagunya Bos Iwan Fals, Galang Rambu Anarki, menggema di warung itu. Lagu yang sedari kecil aku sering dengarkan. Lagu yang bercerita tentang kelahiran anak Iwan Fals yang kebetulan pas melambungnya harga BBM. Bahkan susupun tak terbeli.

Lagu ini aku dengar setelah 2 hari sebelumnya, (Jumat 23 Mei 2008), pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM 30 persen. Premium yang semua Rp 4.500 per/liter menjadi Rp 6 ribu. Waduh makin berat saja beban hidup ini. Atas dasar itu, sebagian teman bahkan ada yang langsung mengganti mobilnya dengan motor. Yang motornya Yamaha King, 2 tax langsung ganti Supra Fit. Semua orang beramai-ramai mengubah pola hidupnya.

Aku yang biasa mengisi bensin full tangki 15 ribu, sekarang sudah naik menjadi 20 ribu. Jadi akupun harus mengurangi aktifitas. Yang biasa bisa jalan minimal 25 kilo per hari, saat ini harus maksimal 20 kilo. Memang pilihannya hanya itu ternyata. Bagaimana bisa survival ditengah kesulitan semua orang.

Aku mungkin masih mending. Karena masih bisa makan di warung padang sekali makan 15 ribu. Tapi banyak teman yang ternyata lebih susah banget. Harus mulai rela setiap kali makan di Warteg dengan pilihan menu telor goreng sama sayur asem, plus air putih. Banyak teman yang akhirnya memilih minum tanpa warna.

 

Sejumlah teman kantor cerita kalau tetangganya sudah mulai pontang-panting kebingungan dengan konsumsi susu buat dua anaknya. Benar saja, susu juga melambung tinggi. Susu Dancow yang katanya sebelumnya masih 55 ribu per kotak. Kini sudah menjadi 80-90 ribu. Kalau melihat cerita teman-teman kantor, rasanya pingin ngamuk melihat negara ini. Semakin banyak jumlah penduduk miskin di negara ini. Koran Tempo 29 Mei hari ini misalnya, menurunkan laporannya penduduk miskin pada tahun ini menjadi 4,5 juta jiwa akibat kenaikan harga BBM. Total orang miskin akan bertambah menjadi 41,7 juta jiwa atau 21, 92 dari total penduduk Indonesia. Ini melebihi perkiraan pemerintah 14,8 sampai 15 persen.

Dan gilanya lagi, orang masih pusing dengan urusan BBM, pemerintah juga menaikkan tarif tol sekitar 12, 43 persen per Jumat Dini hari, 23 Mei. Surat telah ditandatangani menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Orang gila semua itu. Negara ini sepertinya memang pinginnya menghancurkan rakyatnya. Negara yang tak tahan segera melihat rakyatnya menggelepar kesakitan. Coba kalau niatnya “sedikit” baik, mbok ya ditahan misalnya, jangan dulu. Nunggu stabil akibat kenaikan BBM ini. Jasa Marga itu kan monopoli. Kalau ditahan sebentar juga apa ruginya? gak kan?…..Emang hoby kali membuat rakyatnya menderita.

Kenaikan harga BBM kali ini akan terus tercatat dalam sejarah ingatan hidupku. BBM naik saat aku akan melangsungkan pernikahan. Semakin membuatku tidak percaya sama negara ini. Benci sekali aku sama negara ini. Tidak bisa lagi aku bertakzim sama pemimpin di negeri ini. Semuanya hanya mengurus perut sendiri. Para pemimpin yang merasa sudah selesai melakukan banyak buat banyak orang. Solusinya turun jalan!!! lawan kenaikan harga BBM. Lawan kenaikan BBM. BBM adalah MONSTER…!!!!!!

Bersatulah rakyatku, melawan pemimpin yang zhalim…Sekali hidup berarti habis itu mati!!!! 

 

 

 

ode kebangkitan

•Mei 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

19 Mei 2008. Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan.

Siang sekitar pukul 14.00 wib. Aku dibantu Pardi di kamar kosanku yang sumpek, nempelin nama-nama undangan pernikahanku. Acara nempel-nempel itu ternyata lama juga, meski undanganku sedikit. Hampir 2 jam kaleeee. Setelah selesai nempel-nempel, Pardi, si Wong Boyolali itu, bahkan sempat tertidur karena kecapekan nggunting-ngguntingin nama-nama yang akan ditempel di undangan.

Selesai pekerjaan itu, lalu aku membersihkan kamar yang kotor banget, bekas guntingan. uppppssss….setelah selesai pekerjaan itu, lalu aku kepikir nraktir makan Pardi. Lalu terpilihlah, Grand Indonesia, untuk mencari tempat makan. Dari Karet Pedurenan, aku dan Pardi langsung menuju Grand Indonesia yang jaraknya sekitar 3 kilo meter.

Jangan salah, Jauh-jauh dari Kuningan ke lokasi Grand Indonesia, aku bukan bermaksud makan di mallnya. Mall termegah itu. Rasa-rasanya kok aku gak pantes makan di tempat itu. Meskipun aku sesungguhnya bisa makan di tempat itu. Tapi kok kata orang Jawa itu, ora pareng alias gak boleh. Setelah tengak-tengok sebentar, aku memilih makan di sebuah gang depan Grand Indonesia. Duh, ternyata banyak banget warung disitu. Benar saja, karena warung-warung itu menjadi tempat makan para pekerja Grand Indonesia. Kasihan sih, tempatnya agak sedikit kumuh. Tapi ya sudahlah memang itu nasib orang yang dengan ekonomi pas-pasan. Makan dimana lagi kalau gak ditempat itu, meskipun dengan resiko sakit perut atau kurang gizi hehehehe…dari pada pilihannya makan di Grand Indonesia, tapi setelah itu harus puasa Senin-Kamis. kacian deee..

Secara kebetulan aku makan nasi Lodeh dengan lauk peyek Udan, dan ternyata memang gak enak banget. Pardi yang makan ayam bakar saja, juga ternyata merasakan hal yang sama: gak enak. Terlihat gak sampai habis mengunyahnya. Maklum saja, makannya udah dari pagi kali…

Setelah makan, aku memang akhirnya masuk ke Seibu, Grand Indonesia. Mall megah punya Djarum itu. Aku masuk tapi cuma jalan-jalan saja. Kacian deeee. Hanya menikmati pemandangan lampu warna-warni nan indah. Lampion merah di lantai 3 yang terlihat dari lantai 8, tempat Megablitz, terasa indah dan menyedot mata memandang. Tak lama di Grand Indonesia aku pusing donk, mau kemana. Karena mau nonton film, udah tanggal tua, mau makan yang bersih harus irit-irit.

Ya sudah, setelah aku pikir-pikir akhirnya aku ke warung apresiasi, Bulungan, Blok M. Secara kebetulan di tempat itu telah digelar acara 100 penyair berkumpul.

Tema acara Ode Kebangkitan: Bangkitlah Raga Negeriku, Bangkitlah Jiwa Bangsaku. Seratus penyair, pembuat puisi berkumpul. dan tentu saja pengamen jalanan berkumpul. Menyambut apa yang mereka sebut sebagai detik-detik Kebangkitan Nasional yang ke 100.

Tiba-tiba aku berada ditengah-tengah lautan penyair, seniman, di tengah entitas seniman yang lega, longgar tanpa ada sekat-sekat budaya. Benar saja, warung apresiasi yang biasa menjadi tempatku mengunyah makanan sambil menonton live music, tiba-tiba membuatku minder. Perasaaanku dibombardir dengan nilai-nilai nasionalisme yang coba dibangun lewat puisi-puisi.

Suasana malam itu begitu cair. Para seniman dari berbagai daerah di Indonesia tumplek blek. Dan seperti biasa, para seniman yang berpakaian ala kadarnya, kaos oblonk, dan berbagai asesoris kesenimanan lainnya, mewarnai pemandangan malam itu. Tak peduli, ada pak Menteri didepan mereka. Muhammad Nuh, menteri komunikasi dan informasi, hadir dalam acara itu.

Hadir dalam acara itu, para seniman kawakan, seperti Sutardji Calzoum, Viddy AD Daery, Ibnu Wahyudi, Mutia Citrawati Lestari, Ahmadun Yosi Herfanda, Remmy Novaris DM, Hudan Hidayat, Asrizal Nur, Amien Kamil, Sihar Ramses Simatupang, Toto ST Radik, Juftazani, Mustafa Ismail, Arie MP Tamba, Wowok Hesti Prabowo, Firman Venayaksa, Herdi Sahrasad, dan Ibnu PS Megananda. Dan Sutardji membacakan puisinya berjudul air mata.

Selain pembacaan puisi, acara yang terbuka untuk umum ini juga menampilkan orasi kebudayaan oleh Menkominfo Mohammad Nuh dan sastrawan Chavchay Syaifullah. Selain itu, acara juga diisi pentas musik dari KPJ Rangkasbitung, Marjinal, Thumband, Lokal Embience, dan Bunga Trotoar.n red.

Iskandar

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Sepulang dari makan di warung Mbakyu di daerah Tebet, aku mampir di sebuah toko kecil penjual pulsa. Sebenarnya aku lupa kalau mau beli pulsa, tapi mendadak aku ingin berhenti, karena aku melihat ada sesosok yang sedang nongkrong di bakul pulsa. Dan rasanya aku memang pernah melihat pria yang lumayan setengah tua itu.

Begitu aku dekati, benar saja pria itu adalah Mas Is, pria yang biasa tampil menyanyi di BB’s Cafe Menteng, jika hari Jumat. –Hari Jumat malam Sabtu, adalah sesi Blues Night di kafe kawakan yang berlokasi persis belakang Hotel F1 sekarang itu–.

Pria gondrong, yang mulai dipenuhi uban itu, adalah Iskandar. Lelaki yang membawa musik Blues masuk ke Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, di setiap hari Senin malam Selasa.

Iskandar adalah penyanyi Blues dengan segudang pengalaman, dan hidup dari panggung ke panggung. Ia sering aku lihat di TVRI acara musik Blues Nite, bersama mantan personil Krakatau Doni Suhendra. Sejak masih tinggal di Surabaya, aku suka memperhatikannnya lelaki ini. Karena tampilannya yang apa adanya, tapi mengesankan. Dan keren lohhh kalau sudah nyanyi Blues. Dia bisa dibilang orang ndeso tapi nyanyi londo…..

Siang itu, Mas Is, nongkrong didepan counter pulsa, sambil ditemani secangkir kopi dan tangan yang mencengkeram seputung rokok Djie Sam Soe. Dalam bayanganku, Mas Is nampak memelas dan cukup tidak terawat. Perbincanganku dengannya cuma sebentar. Sambil aku mengisi pulsa, mulut pria itu nerocos terus, seakan kita sudah pernah kenal lama. Dia bahkan tiba-tiba bercerita soal yang bersifat pribadi. Misalnya, soal statusnya yang makin jomblo saja. “Yo wis ngene iki, sak iki lagi jomblo rekk,” katanya memakai bahasa Jawa Timuran.

Mas Is bahkan menganggapku masuk di komunitas Bulungan, yang sering menontonnya tampil bersama Gugun, gitaris blues, Enti, basis cabutan, yang terakhir ternyata sering diajak konser oleh Iskandar.

Dia bercerita antara lain, tinggal di daerah Rasamala 4 Tebet Dalam, tinggal di kos-kosan yang sumpek dan murah. “Enak sih,” katanya, “cuma kalau keluar pake ojeknya agak jauh.”

Mas Is, yang sangat fasih menyanyikan lagu-lagu Blues seantero jagat itu tiba-tiba bercerita, ia tinggal di kos-kosan seharga Rp 450 ribu per/bulan. Sudah gak kuat lagi kalau harus menyewa tempat yang mahal. Karena penghasilannya memang makin tidak bisa dipastikan. Kehidupannya nampak seperti semakin menyedihkan. Tanpa keluarga, entah tanpa apalagi dia. Tapi yang hebat, dia tetap sebagai musisi hebat. Konsistensinya yang hebat….